Beranda > Keutamaan Bertafakur > KEUTAMAAN BERTAFAKUR

KEUTAMAAN BERTAFAKUR

Allah Yang Mahatinggi memerintahkan kita kaum Muslim untuk bertafakur dan bertadabur. Allah juga memuji orang-orang yang melakukan tafakur dan tadabur. Dia berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berba ring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.’….” (Qs Ali ‘Imran: 191).

Sayidina Ibn ‘Abbas berkata, “Sekelompok manusia (suatu kaum) bertafakur tentang Allah. Maka, Rasulullah Saw bersabda, Pikirkanl ah (bertafakurlah) tentang makhluk Allah dan jangan bertafakur tentang Dzat Allah, karena kamu tidak akan dapat mengetahui [batas-batas] kekuasaan Allah yang sesungguhnya. ‘.”

 

Nabi Saw menceritakan bahwa pada suatu hari beliau datang kepada sekelompok orang dan melihat mereka sedang melakukan tafakur. Beliau bertanya kepada mereka, ‘Apa yang kalian bicarakan?” Mereka menjawab, “Kami scdang memikirkan makhluk-makhluk Allah Azza wa Jalla.” Maka sabda beliau, “Lakukanlah yang demikian dan pikirkan makhluk‑makhluk-Nya dan jangan kalian bertafakur tentang Dzat-Nya, Wujud-Nya. Pikirkan dan renungkan bahwa di belahan dunia sebelah barat (arah terbenamnya matahari), terdapat tanah yang putih dengan penduduknya yang berkulit putih [maksudnya: bule]. Cahayanya berwarna putih dan terangnya pun berwarna putih. Jaraknya adalah panjang lintasan pergerakan matahari selama empat puluh hari. Di sana terdapat beberapa wujud (makhluk) yang matanya senantiasa taat kepada Allah Azza wa Jalla meskipun hanya sekerdipan mata.”

 

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, sejauh apakah jarak keberadaan mereka dari setan?” Maka beliau menjawab, “Mereka tak tahu apakah setan diciptakan atau tidak.” Para sahabat bertanya lagi, “Apakah mereka termasuk keturunan Adam?” Jawab beliau kemudian, “Mereka juga tak tahu, apakah Adam diciptakan atau tidak.”

 

Atha’ berkata, “Pada suatu hari `Ubaid bin `Umair dan aku pergi mengunjungi Aisyah. Kemudian kami bercakap-cakap dengannya. Tentu saja, antara kami dan Aisyah ada hijab. Aisyah bertanya, Wahai `Ubaid, apa yang mencegah engkau tidak mengunjungiku?”Ubaid menjawab, `Karena sabda Rasulullah. Bukankah beliau bersabda, `Kunjungilah aku sesekali (jarang-jarang), niscaya bertambahlah kasih-sayang.’ Kemudian `Ubaid me-lanjutkan, `Terangkanlah kepada kami tentang hal yang menakjubkan yang kausaksikan pada din i Rasulullah Saw.’ Mendengar permintaan `Ubaid itu, Aisyah lalu menangis seraya berkata, `Setiap yang diperbuat beliau sangatlah menakjubkan. Beliau mendatangiku pada malam giliran untukku, bahkan kulitku sudah ber-sentuhan dengan kulit beliau. Kemudian beliau berkata kepadaku, Wahai Aisyah, biarkanlah aku beribadah kepada Tuhanku Azza wa Jana.’ Kemudian bangkitlah beliau ke tempat air, mengambil air, lalu bersuci dan shalat. Dalam shalat, beliau menangis sehingga air matanya membasahi janggutnya. Kemudian beliau sujud sangat lama, sehingga lantai di bawahnya menjadi basah karenanya. Setelah shalat beliau berbaring pada salah satu sisinya sampai saat Shubuh tiba. Bilal Ra datang untuk melaksanakan adzan shalat Shubuh dan mendapati beliau dalam keadaan menangis. Bertanyalah Bilal, `Ya Rasulullah, apa sebab engkau menangis? Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu, sekarang dan yang akan datang?’ Beliau berkata kepada Bilal, Kasihan engkau, wahai Bilal! Siapa yang dapat mencegah aku menangis? Semalam Allah Azza wa Jalla menurunkan wahyu berikut, `Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.’ (Qs Ali ‘Imran [3 ] : 190).’

Lalu beliau bersabda, `Celakalah orang yang sering membaca ayat ini namun tidak menafakurinya.’.”

Sufi dan wali besar Hasan al-Bashri berkata, “Bertafakur sesaat lebih baik daripada berdiri semalaman mengerjakan shalat.”

Ulama-sufi lainnya, Al-Fudhail berkata, “Bertafakur adalah ibarat sebuah cermin yang memperlihatkan kepada engkau kebajikan maupun kcjahatanmu.”

Ulama-sufi besar Ibrahim bin Adham ditanya orang banyak, “Mengapa engkau bertafakur begitu lama?” Maka ia menjawab, “Bertafakur tentang Allah Ta’ala adalah otaknya kebijaksanaan.”

Ulama-sufi lainnya, Sufyan ats-Tsauri, diriwayatkan sering mengulang-ulang syair berikut:

Tatkala manusia coba gunakan piki ran,

Baginya, dalam segala sesuatu ada pelajaran

Seorang sufi besar bernama Thawus mengatakan, “Pada suatu hari para murid `Isa As (al-hawariyyun) bertanya kepadanya, `Ya Ruh Allah, adakah seseorang yang menyamai engkau di dunia ini sekarang?’ Beliau menjawab, ada! Yaitu seseorang yang kata-katanya adalah dzikrullah, yang diamnya tafakur, yang setiap pandangannya memberi dirinya pelajaran.’.”

Hasan al-Bashri, ulama-sufi dari Bashrah, berkata, “Barangsiapa bercakap-cakap mengenai sesuatu yang tidak berbobot (tidak mengandung hikmah), maka percakapannya itu sia-sia belaka. Barangsiapa yang diam tapi tidak bertafakur, maka ia lalai. Dan barangsiapa yang pandangannya tidak memberinya pelajaran, maka itu hanyalah permainan dan olahraga.”

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran, “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku ….” (Qs al-Araf [7] : 146).

Hasan al-Bashri menjelaskan pengertian ayat ini dan mengatakan bahwa Allah Ta’ala menahan atau mencegah hati mereka dari bertafakur, memikirkan dan merenungkan tentang urusan-Nya apalagi Dzat-Nya.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda, “Berikanlah bagian atau keberuntungan (nashib) kepada kedua matamu untuk ibadah kepada Allah.”

Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah bagian mata dalam ibadah kepada Allah?”

Beliau pun menjawab, “Memandang [maksudnya: membaca dan menelaah—penerj.] Al-Quran untuk bertafakur atasnya, mencari nasihat dan mengambil pelajaran dari hal-hal yang menakjubkan darinya.”

 

Luqman al-Hakim, sang ahli hikmah, sering duduk sendirian dalam waktu lama. Tuannya [dalam riwayat lainnya, bekas budaknya] datang kepadanya dan bertanya, “Ya Luqman, engkau duduk sendirian berlama-lama. Lebih baik bagimu jika engkau duduk-duduk bersama manusia.” Luqman pun menjawab, “Duduk berlama‑lama dalam kesendirian lebih memudahkan aku bertafakur [karena itu lebih bermanfaat (lebih utama)— penerj.] karena bertafakur menunjukkan jalan menuju Sorga.”

Khalifah termasyhur dalam Dinasti Bani Umayyah, `Umar bin ‘Abdul Aziz berkata, “Memikirkan nikmat-nikmat serta rahmat Allah Yang Maha Pengasih ter-masuk ibadah yang utama.”

Seorang sufi bernama Bisyir al-Hafi berkata, “Jika manusia bertafakur tentang kesucian dan keagungan Allah Azza waJalla, niscaya mereka tidak akan durhaka (mengerjakan maksiat) kepada-Nya.”

Hazrat Ibn ‘Abbas Ra berkata, “Dua rakaat shalat tengah malam dengan tafakur kepada Allah lebih baik daripada shalat yang tidak khusyuk sepanjang malam.”

Abu Sulaiman ad-Darani, salah seorang ulama, mengatakan, “Memikirkan urusan dunia berarti lalai pada urusan akhirat (menjadi hijab dari akhirat) dan siksaan bagi para waliyullah. Memikirkan akhirat berarti meningkatkan hikmah dan mengaktifkan (menghidup-kan) hati.”

Hathim, salah seorang ulama-sufi, berkata, “Pengalaman (pengajaran) dapat menambah ilmu dan ke-arifan, dzikir (ingat kepada Allah) meningkatkan cinta, dan bertafakur meningkatkan rasa takut.”

Diriwayatkan bahwasanya Allah Ta’ala berfirman dalam salah satu kitab-Nya, “Aku tidak menerima (mengabulkan) perkataan setiap orang bijak ahli hikmah, tetapi Aku menilai tujuan dan niatnya. Jika Aku melihat tujuan dan niatnya untuk-Ku, maka Aku akan menjadikan diamnya adalah tafakur dan perkataannya adalah pujian, meskipun ia tidak berkata-kata sepatah kata pun.”

Ishak bin Khalaf berkata, “Pada suatu ketika Daud ath-Tha’i bangun pada malam terang bulan. Ia ke-mudian naik ke sebuahsutuh (tempat di atap rumah yang kerap ditempati juga, loteng) dan di situ ia merenungkan makhluk-makhluk Allah yang berada di kerajaan langit dan bumi. Dipandangnya langit lalu menangis dan terjatuhlah ia dari sana. Pemilik rumah terbangun dari tidurnya dan dengan tanpa baju ia melompat seraya mengambil pedang. Ia mengira ada seorang pencuri masuk ke dalam rumah. Namun tatkala melihat Daud ath-Tha’i, ia menurunkan pedangnya dan bertanya kepadanya, `Siapakah yang telah melemparkan engkau dari sutuh?’ Jawabnya, Aku tidak tahu.’.”

Salah seorang wali termasyhur, Al-Junaid, berkata, “Majelis yang paling mulia dan paling tinggi adalah majelis yang menghirup udara makrifat yang duduk dalam suasana tafakur di padang tauhid, minum pada piala kasih-sayang dari samudcra dzikir dan berprasangka baik kepada Allah Azza waJalla.”

 

Imam Syafi’i, salah seorang imam mazhab, mengatakan, “Berpikirlah sebelum engkau mengucapkan janji, berpikirlah dengan mendalam sebelum engkau berbuat, bermusyawarahlah engkau sebelum memulai.” Dia juga berkata, “Empat perkara yang bermanfaat dan utama: (1) hikmah (kebijaksanaan) dan modalnya adalah berpikir (bertafakur); (2) sabar dan modalnya adalah mengendalikan dan menahan nafsu-syahwat; (3) ke-kuatan dan modalnya adalah menahan nafsu-amarah; dan (4) adil dan modalnya kelurusan din.”

Itulah beberapa ucapan bijak (atsar) tentang tafakur dari para ulama, sufi, dan wali pada generasi Islam awal.

HAKIKAT TAFAKUR DAN BUAHNYA

Tafakur berarti hadir dan munculnya dua hikmah ,(ma`rifah) di dalam hati. Selain itu juga hadir dan timbulnya hikmah (ma`rifah) ketiga sebagai hasil

percampuran atau perpaduan dari kedua hikmah ter-sebut. Ambillah salah satu contoh. Orang yang ingin mengetahui bahwa akhirat lebih baik dari dunia ini—walaupun sementara ini ia cenderung pada dunia yang sekarang ini—maka ia harus menempuh dua jalan. Jalan pertama yaitu ia harus mendengar dari orang lain dan kemudian ia percaya bahwa akhirat lebih baik dari dunia yang sekarang mi. Ia membenarkan lalu mengikuti perkataan orang lain itu semata-mata tanpa melihat dari mewawas secara mendalam. Inilah yang disebut taqlid atau percaya buta tanpa alasan yang kuat.

Cara kedua yaitu mengetahui bahwa apa yang kekal adalah lebih baik dan lebih utama. Berdasarkan pe-ngetahuan tentang kedua premis (pernyataan mendasar) ini, muncullah pengetahuan lain bahwa akhirat lebih baik dari dunia yang sekarang ini, karena yang pertama lebih kekal dari yang kedua. Jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang dua hal yang terdahulu, maka pe-ngetahuan tentang hal ketiga mustahil kita miliki. Inilah yang disebut tafakur atau merenungkan atau berpikir secara mendalam. Padanannya antara lain adalah meng-ambil i’tibar, tadzakkur, nazhar (memperhatikan dengan cermat), dan tadabbur. Pintu pengetahuan ilahiah atau ma`rlfah tidak tertutup sekalipun kematian menghampiri manusia. Ia akan terns berlanjut bahkan setelah ke-matian.

BERPIKIR ADALAH DASAR BAGI AMAL. Tafakur atau berpikir akan menurunkan dan membuahkan pe-ngetahuan, menghasilkan ilmu. Pada gilirannya, pengetahuan akan menghasilkan keadaan (hal) hati. Atau, pengetahuan akan menggerakkan hati, lalu hati menggerakkan anggota tubuh untuk melakukan suatu perbuatan. Oleh karena itu, berpikir dengan mendalam, merenung, atau bertafakur merupakan kunci dari amal yang salih, atau perbuatan yang baik dan bijak. Ini lebih baik dari dzikir dan dzikir adalah lebih baik dari mengajar, karena tafakur juga berarti dzikir. Adapun dzikir lebih baik daripada amal yang dilakukan oleh anggota tubuh. Maka dari itu, tafakur lebih baik dari semua amal dan pekerjaan. Untuk itulah seorang waliyullah mengatakan bahwa tafakur selama satu jam lebih utama ketimbang beribadah selama setahun.

Tafakur akan membimbing dan menuntun ma-nusia kepada simpulan pengertian yang sangat ber-makna dan berguna bahwa akhirat lebih baik dari dunia. Ketika pikiran ini tertanam mendalam di dalam hati, niscaya hal itu akan memimpin seseorang kepada sikap dan perilaku zuhud dari dunia dan berhasrat besar kepada kedamaian dan kebahagiaan yang kekal di akhirat. Inilah perubahan keadaan hati. Sebelum manusia memperoleh pengetahuan atau ma`rifah seperti ini, hati umumnya lalai dan berpaling kepada kesenangan, kcnyamanan dan kemcwahan dunia serta tidak menyukai bahkan mem-benci akhirat. Setelah pengetahuan bahwa akhirat lebih baik dari dunia yang hadir dalam hati, maka hati juga mengalami perubahan lalu kehendak dan keinginannya pun berubah sepenuhnya. Dan pada akhirnya seluruh amal-perbuatannya dibimbing dan dituntun oleh motif untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat.

Bertafakur, merenungkan dan memikirkan secara mendalam adalah sebutan lain bagi menyalanya ilmu yang muncul akibat dari dua macam pengetahuan ter-sebut, sebagaimana api muncul akibat dari besi yang dipukulkan pada batu. Ketika api terpercik dari pukulan besi pada batu, maka mata kita melihat percikan api ter-sebut. Sebelum besi dipukulkan pada batu, mata kita tidak melihat sesuatu pun. Percikan api yang tampak itu membangkitkan seluruh anggota tubuh siap bertindak

untuk melakukan sesuatu. Demikian pula halnya dengan cahaya yang memancar di dalam hati manusia, yang dengannya manusia dapat melihat hakikat atau sifat hakiki dari segala sesuatu. Cahaya mengubah hati yang tadinya tiada dapat melihat sesuatu pun di dalam kegelapan. Dengan demikian, hasil dari tafakur adalah ilmu, pengetahuan dan perubahan hal (keadaan) hati. Tidak ada batas dan ujung dari keadaan yang mengubah hati. Orang yang berusaha untuk menguasai semua cabang pengetahuan keagamaan, tentu dia tidak akan mampu. Maka dari itu, kita seyogianya berusaha me-nguasai sebagian pengetahuan tentang semua tahap atau maqam yang menuntun kita kepada pencerahan ruhaniah.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: