Beranda > Hakikat Tafakur dan Buahnya > Hakikat Tafakur dan Buahnya

Hakikat Tafakur dan Buahnya

Tafakur berarti hadir dan munculnya dua hikmah ,(ma`rifah) di dalam hati. Selain itu juga hadir dan timbulnya hikmah (ma`rifah) ketiga sebagai hasil percampuran atau perpaduan dari kedua hikmah tersebut. Ambillah salah satu contoh. Orang yang ingin mengetahui bahwa akhirat lebih baik dari dunia ini—walaupun sementara ini ia cenderung pada dunia yang sekarang ini—maka ia harus menempuh dua jalan. Jalan pertama yaitu ia harus mendengar dari orang lain dan kemudian ia percaya bahwa akhirat lebih baik dari dunia yang sekarang ini. Ia membenarkan lalu mengikuti perkataan orang lain itu semata-mata tanpa melihat dari mewawas secara mendalam. Inilah yang disebut taqlid atau percaya buta tanpa alasan yang kuat.

Cara kedua yaitu mengetahui bahwa apa yang kekal adalah lebih baik dan lebih utama. Berdasarkan pengetahuan tentang kedua premis (pernyataan mendasar) ini, muncullah pengetahuan lain bahwa akhirat lebih baik dari dunia yang sekarang ini, karena yang pertama lebih kekal dari yang kedua. Jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang dua hal yang terdahulu, maka pengetahuan tentang hal ketiga mustahil kita miliki. Inilah yang disebut tafakur atau merenungkan atau berpikir secara mendalam. Padanannya antara lain adalah meng-ambil i’tibar, tadzakkur, nazhar (memperhatikan dengan cermat), dan tadabbur. Pintu pengetahuan ilahiah atau ma`rlfah tidak tertutup sekalipun kematian menghampiri manusia. Ia akan terns berlanjut bahkan setelah ke-matian.

BERPIKIR ADALAH DASAR BAGI AMAL. Tafakur atau berpikir akan menurunkan dan membuahkan pengetahuan, menghasilkan ilmu. Pada gilirannya, pengetahuan akan menghasilkan keadaan (hal) hati. Atau, pengetahuan akan menggerakkan hati, lalu hati menggerakkan anggota tubuh untuk melakukan suatu perbuatan. Oleh karena itu, berpikir dengan mendalam, merenung, atau bertafakur merupakan kunci dari amal yang salih, atau perbuatan yang baik dan bijak. Ini lebih baik dari dzikir dan dzikir adalah lebih baik dari mengajar, karena tafakur juga berarti dzikir. Adapun dzikir lebih baik daripada amal yang dilakukan oleh anggota tubuh. Maka dari itu, tafakur lebih baik dari semua amal dan pekerjaan. Untuk itulah seorang waliyullah mengatakan bahwa tafakur selama satu jam lebih utama ketimbang beribadah selama setahun.

Tafakur akan membimbing dan menuntun manusia kepada simpulan pengertian yang sangat ber-makna dan berguna bahwa akhirat lebih baik dari dunia. Ketika pikiran ini tertanam mendalam di dalam hati, niscaya hal itu akan memimpin seseorang kepada sikap dan perilaku zuhud dari dunia dan berhasrat besar kepada kedamaian dan kebahagiaan yang kekal di akhirat. Inilah perubahan keadaan hati. Sebelum manusia memperoleh pengetahuan atau ma`rifah seperti ini, hati umumnya lalai dan berpaling kepada kesenangan, kcnyamanan dan kemcwahan dunia serta tidak menyukai bahkan mem-benci akhirat. Setelah pengetahuan bahwa akhirat lebih baik dari dunia yang hadir dalam hati, maka hati juga mengalami perubahan lalu kehendak dan keinginannya pun berubah sepenuhnya. Dan pada akhirnya seluruh amal-perbuatannya dibimbing dan dituntun oleh motif untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat.

Bertafakur, merenungkan dan memikirkan secara mendalam adalah sebutan lain bagi menyalanya ilmu yang muncul akibat dari dua macam pengetahuan ter-sebut, sebagaimana api muncul akibat dari besi yang dipukulkan pada batu. Ketika api terpercik dari pukulan besi pada batu, maka mata kita melihat percikan api ter-sebut. Sebelum besi dipukulkan pada batu, mata kita tidak melihat sesuatu pun. Percikan api yang tampak itu membangkitkan seluruh anggota tubuh siap bertindak untuk melakukan sesuatu. Demikian pula halnya dengan cahaya yang memancar di dalam hati manusia, yang dengannya manusia dapat melihat hakikat atau sifat hakiki dari segala sesuatu. Cahaya mengubah hati yang tadinya tiada dapat melihat sesuatu pun di dalam kegelapan. Dengan demikian, hasil dari tafakur adalah ilmu, pengetahuan dan perubahan hal (keadaan) hati. Tidak ada batas dan ujung dari keadaan yang mengubah hati. Orang yang berusaha untuk menguasai semua cabang pengetahuan keagamaan, tentu dia tidak akan mampu. Maka dari itu, kita seyogianya berusaha me-nguasai sebagian pengetahuan tentang semua tahap atau maqam yang menuntun kita kepada pencerahan ruhaniah.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: