Beranda > Cara Bertafakur > CARA BERTAFAKUR

CARA BERTAFAKUR

Kami akan membatasi diripada cara bertafakur dalam hubungannya dengan masalah-masalah keagamaan yang berkaitan dengan hubungan hamba dengan Tuhannya, Allah Swt. Ada dua macam cara bertafakur dalam hal ini. Pertama, bertafakur dalam hubungannya dengan kebajikan dan kejahatan seorang hamba. Dan, kedua, bertafakur berkenaan dengan Allah Ta’ala, wujud-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya dan nama-nama-Nya yang indah dan berkenaan dengan makhluk-makhluk-Nya, kekuasaan dan kedaulatan-Nya, langit dan bumi serta apa yang terdapat di antara keduanya.

Ambil contoh berikut. Seorang salik, musafir atau penempuh jalan kepada Allah Ta’ala dan orang-orang yang rindu untuk berjumpa dengan-Nya kelak dapat diibaratkan seperti para pencinta yang rindu untuk bertemu dengan kekasihnya. Seorang pencinta yang asyik dan tenggelam dalam, cinta kepada kekasihnya, kecantikan dan keindahannya, dan sosok pribadi serta rupa bentuknya selalu merindukan pertemuan dengan kekasihnya itu. Ia juga membayangkan akan memperoleh kenikmatan dan kelezatan dalam perjumpaan tersebut.

Kesenangan dan kenikmatan itu niscaya akan bertambah jika ia mengingat padanya, akhlaknya dan perbuatannya. Ia akan selalu berpikir dan merenungkan bagaimana dirinya meluruskan dan membetulkan dini agar mendapatkan cinta dari kekasihnya. Demikian pula halnya dengan tafakur kepada Allah. Seorang hamba yang bertafakur kepada Allah Ta’ala yang dicintainya, niscaya tidak akan keluar dari dna bagian berikut. (1) Ia memikirkan amal-perbuatannya, apa yang baik dan apa yang buruk, apakah banyak yang baiknya atau yang buruknya. Hal ini berkaitan dengan ilmu-ilmu mu’amalah.

(2) Ia bertafakur atas masalah-masalah ruhaniah (spiritual), atau menyangkut ilmu-ilmu mukasyafah. Ini mencakup hal-hal yang disukai oleh Allah Azza waJalla dan hal-hal yang tidak disukai-Nya. Lagi-lagi, ini ber-hubungan dengan kebaikan dan keburukan yang terbuka, yang disebut hal-hal yang zhahiriyah, serta kebaikan dan keburukan yang tersembunyi, yang disebut hal-hal yang bathiniyah. Contoh hal-hal yang lahiriah antara lain berupa perbuatan taat dan perbuatan maksiat kepada Allah. Contoh hal-hal yang batiniah di antaranya adalah perilaku dan perbuatan hati yang menyelamatkan dan mencelakakan atau membinasakan, yang tempatnya adalah di dalam hati. Taat dan maksiat, kebaikan dan kejahatan selalu berhubungan dengan anggota tubuh yang tujuh. Contoh kejahatan lahiriah ialah lari dari perang agama, durhaka kepada orangtua dan tinggal di tempat yang diharamkan.

Ada tiga perkara dalam hubungannya dengan ber-tafakur mengenai hal-hal yang disukai dan tidak disukai Allah Ta’ala. (1) Memikirkan apakah suatu perbuatan tertentu disukai Allah Ta’ala atau tidak. Cacat, kekurangan atau kerusakan dari perbuatan-perbuatan yang kita lakukan umumnya tersembunyi, tidak terbuka dan tak kita sadari. Ini semua membutuhkan perenungan yang mendalam; (2) Memikirkan dengan keras untuk menemukan jalan guna menjaga diri dari hal-hal yang tidak disukai Allah, yang buruk, keji dan munkar; dan (3) Memikirkan apakah sesuatu yang sudah, sedang, dan akan kita perbuat disukai Allah Swt atau tidak. Jika sesuatu yang tidak disukai Allah kita lakukan pada masa silam, hendaklah kita menyesal. Jika suatu perbuatan yang dibenci Allah belum terlaksana maka hendaklah kita menjaga diri darinya.

OBYEK TAFAKUR. Ada empat hal yang hendaknya menjadi obyek tafakur kita, yaitu taat (kebaikan), maksiat (kekejian), sifat-sifat yang membinasakan, dan sifat-sifat yang menyelamatkan.

(1) Perbuatanperbuatan maksiat. Anggota Tubuh. Ketika bangun pada pagi hari manusia harus memikirkan dan merenungkan dengan mendalam tentang semua dosa yang sudah diperbuat oleh anggota tubuhnya. Apabila ternyata di antara anggota tubuhnya berbuat maksiat atau melakukan dosa, maka ia harus segera meninggalkan dosa dan maksiat. Ia harus bertobat atas perbuatannya itu. Apabila anggota tubuhnya berbuat dosa, hendaklah ia memperingatkan dirinya sendiri dengan betul-betul agar dirinya tak melakukan perbuatan itu.

Lidah. Lidah sering menjadi alat bagi perbuatan keji seperti memfitnah, menggunjing, berbohong, dan sebagainya. Pertama-tama, pikirkanlah bahwa ada kejahatan/kekejian yang sangat dilarang Allah Azza wa Jalla sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran. Hendaknya kita menyadari bahwa kejahatan atau kekejian akan mengakibatkan adzab yang keras bukan hanya berlaku di dunia ini, tetapi terutama di akhirat nanti. Pikirkan dengan sungguh-sungguh bagaimana me-nyelamatkan diri dari dosa-dosa ini—apakah mengambil jalan keselamatan itu secara sendirian atau berteman dengan orang-orang yang baik dan salih.

Telinga. Pikirkanlah bagaimana menyelamatkan telinga kita dari rnendengarkan gunjingan, fitnah, bohong, omong-kosong, dan sebagainya. Perut. Pikirkan tentang godaan, bisikan atau dorongan nafsu untuk makan makanan yang haram. Pikirkan dari mana makanan yang kita makan berasal, apakah dari sumber yang halal atau sumber yang haram. Berpikir dan ber-tafakur dalam cara yang seperti itu tentang rumah tempat tinggal kita, pakaian kita, segala harta yang dicari dan diperoleh serta harta-kekayaan lainnya. Pikirkan dan usahakan bagaimana cara mendapatkan harta yang halal dan cara menyelamatkan diridari jalan dan sarana yang haram dan juga yang syubhat (diragukan) kehalalannya.

(2) Perbuatan-perbuatan Taat. Yang pertama-tama dan yang utama, hendaklah kita pikirkan amalan-amalan fardhu (wajib), bagaimana kita melaksanakannya, bagaimana kita menjaganya dari kekurangan dan keteledoran, bagaimana menyelamatkan dirikita dari pelaksanaan yang bolong-bolong, bagaimana kita menambalnya atau rnenggantinya dengan amalan-amalan sunat (tambahan). Pikirkan pula apakah mata, lidah dan telinga kita telah menjalankan kewajiban-kewajibannya secara tepat dan sudahkah menunaikan amalan-amalan yang disukai oleh Allah Ta’ala.

(3) Sifatsifat yang Membinasakan. Renungkan dan pikirkan dengan sungguh-sungguh kesalahan dan kejahatan dirikita yang mengganggu dan merusak amalan kita sendiri, maksudnya adalah kekejian diri, misalnya hawa nafsu, ghadlab (marah), kikir, sombong, riya, iri, dengki, malas, gemar menunda-nunda amal-kebajikan, rakus harta, pujian, nama dan kemegahan diri. Renungkan dan pikirkan cara bagaimana untuk meng-hilangkan kejahatan-kejahatan tersebut dari dalam hati kita dan usahakan dengan sungguh-sungguh. Seandainya kita berpikir bahwa kita sudah terbebas dari rasa sombong dan takabur, ujub, dan sebagainya, ujilah dini kita dengan cara membawa seikat buah-buahan atau sayuran di atas kepala lalu pergilah ke pasar sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Muslim generasi awal. Kalau ternyata kita tidak sanggup melakukannya, maka kita belum memiliki tawadhu (kerendahan hati), kesabaran dan kesantunan. Ini berarti kita masih menyimpan rasa sombong di dalam hati kita.

Jika kita berpikir bahwa kita telah berhasil menaklukkan ghadlab (rasa marah tanpa alasan yang dibenarkan), maka untuk mengujinya berbicaralah dengan seseorang sehingga dapat membangkitkan kemarahannya kepada kita, dan kemudian lihat apakah kita berhasil mengendalikan rasa marah itu. Kita dapat pula memeriksa kejahatan dan kekejian hati kita lainnya. Dengan demikian, kita dapat menguji apakah kita telah menghilangkan semua kejahatan dan kekejian yang bersemayam di dalam diri kita. Apabila rasa sombong dan takabur ternyata telah menetap di dalam diri kita, maka kita adalah seorang yang bodoh. Apakah kita mengira dan menyangka bahwa kita hebat, besar, lebih dari orang lain? Hanya Allah-lah yang hebat, besar dan Mahabesar. Manusia tidak boleh merasa dirinya besar, hebat. Setelah mati kita akan mengetahui siapa yang besar, yang mulia dan siapa yang kecil, yang hina.

Apabila kita menemukan bahwa di dalam dirikita terdapat nafsu yang rakus kepada makanan, hendaklah kita berpikir bahwa mengikuti nafsu seperti itu adalah sifat binatang, perilaku yang dimiliki binatang. Orang yang berhasil mengendalikan dengan baik dan sempurna nafsu rakus terhadap makanan dan pemuasan setiap hawa nafsu, dapatlah ia disebut orang yang memiliki sifat-sifat malaikat yang dekat dengan Allah Azza waJalla. Dengan cara seperti itu, pikirkan dan renungkan setiap dosa dan kesalahan lainnya yang terdapat dalam dirikita, lalu pikirkan pula cara untuk menghilangkan mereka dari jiwa kita.

(4) Sifat-sifat yang menyelamatkan. Setelah memikirkan dan merenungkan ketiga hal tersebut, hendaklah kita juga bertafakur apakah kita sudah memperoleh sifat-sifat yang menyelamatkan. Hendaknya kita memikirkan apakah ada hasrat dan kemauan pada dirikita terhadap salah satu atau sebagian dari sifat-sifat yang menyelamat-kan. Ada sepuluh kebajikan dasar yang mengantarkan kita kepada keselamatan di akhirat, yaitu (1) tobat, (2) sabar dalam musibah dan kesulitan, (3) syukur terhadap segala nikmat-karunia Allah, (4) takut, (5) harap, (6) zuhud dari dunia, (7) ikhlas, (8) benar/shiddiq, (9) cinta kepada Allah (mahabbah), dan (10) tawadhu. Pikirkan dan renungkan, tafakuri sejauhmana kita telah me-lakukan usaha untuk memperoleh kebajikan-kebajikan ini, dan apa yang kita inginkan dan hasratkan.

Berikut ini beberapa cara bertafakur. Dengan cara-cara ini, kita berusaha untuk mencari dan memperoleh ilmu yang akan mengantarkan kita untuk lebih dekat dan makin dekat kepada Allah Swt, dan yang akan menyelamatkan kita dari sifat-sifat yang membinasakan (kejahatan-kejahatan yang merusak) dan yang akan menghiasi kita dengan sifat-sifat yang menyelamatkan (kebajikan-kebajikan utama) dirikita pada Hari Kiamat. Renungkan dan pikirkan ayat-ayat Al-Quran yang kita baca. Satu ayat yang dibaca dengan perenungan lebih baik daripada membaca seluruh (mengkhatamkan) Al-Quran tanpa pemikiran dan percnungan mendalam. Sebaiknya kita tafakuri pula hadis Nabi Saw berikut, “Ruh al-Qudus membisikkan ilham ke dalam ruh (jiwa)-ku, `Cintailah siapa yang kausukai, tetapi ingat bahwa kelak engkau akan berpisah dengannya. Hiduplah sebagaimana kausukai, tetapi ingat bahwa engkau akan mati. Berbuahlah apa yang kauinginkan, tetapi ingat bahwa engkau akan diberi balasan.’.” Ini adalah hadis yang menjadi rujukan bagi perenungan-perenungan dan tafakur yang harus kita lakukan dan menjadi bahan untuk bercermin dan berkaca diri.

Setiap orang yang berkhidmat kepada agamanya dan menempuh jalan agamanya harus memiliki sebuah daftar kejahatan yang membinasakan (keji dan munkar) dan kebajikan yang menyelamatkan. Ia harus memper-hatikan kejahatan dan kebajikan tersebut setiap hari, apakah ia melakukan kcjahatan atau kebajikan pada hari ini, lebih banyak mana antara kejahatan dan kebajikan yang diperbuatnya. Jika seseorang dapat membebaskan diridari sepuluh kejahatan (sifat-sifat yang merusak) berikut, maka ia dapat mclepaskan dirinya dari dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan kecil karena kesepuluh kejahatan ini adalah pokok-pokok kejahatan: (1) kikir (bakhil); (2) sombong (takabur); (3) ujub; (4) riya’, memamerkan kebajikan; (5) iri-dengki; (6) ghadiab (marah) yang berlebihan, tidak pada tempatnya; (7) isyraf/rakus terhadap makan (mengonsumsi secara berlebihan); (8) rakus dalam berhubungan intim, berlebihan dalam hubungan intim; (9) rakus/tamak kepada harta-kekayaan; (10) cinta/nafsu kepada kemegahan dan kemasyhuran.

Sedangkan kebajikan-kebajikan dasar (sifat-sifat) yang menyelamatkan juga ada sepuluh: (1) rasa sesal (tobat) atas perbuatan dosa yang dilakukan; (2) sabar dalam musibah dan bencana dan berbagai kesukaran; (3) ridha pada qadha dan takdir; (4) syukur atas nikmat-karunia Allah; (5) cemas dan harap; (6) zuhud terhadap dunia; (7) ikhlas dalam beramal; (8) berakhlak baik kepada makhluk; (9) mencintai Allah; dan (10) khusyuk di hadapan-Nya. Orang yang mempunyai kesepuluh kejahatan atau sifat jahat yang mencelakakan tersebut di atas sudah semcstinya memikirkan cara bagaimana menghilangkan satu demi satu dari sepuluh kejahatan. Jika suatu kejahatan berhasil ditinggalkan, maka ia disingkirkan dari daftar. Kemudian dalam kesempatan lain, ia harus berpikir dan berusaha untuk menyingkir-kan kejahatan berikutnya dan bersyukur kepada Allah secara ikhlas, karena berhasil mendepak kejahatan pertama. Dengan usaha keras terus-menerus tak kenal henti, ia akan bcrhasil menghilangkan kesepuluh kejahatan atau sifat jahat itu dari dirinya dan sebagai gantinya ia akan memperoleh kesepuluh kebajikan atau sifat bajik yang menyelamatkan.

Inilah aspek-aspek perenungan bagi orang salih yang berkhidmat kepada jalan agama sejauh ilmu-ilmu yang terkait ditelaah.

Kategori:Cara Bertafakur
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: