Beranda > Bertafakur Tentang Allah > BERTAFAKUR TENTANG ALLAH

BERTAFAKUR TENTANG ALLAH

Bagian atau aspek kedua tafakur yaitu tafakur tentang keagungan Allah, kebesaran, kemahabesaran, kekuatan dan keperkasaan-Nya. Bertafakur dan merenungkan Dzat Allah, wujud-keberadaan-Nya, sifat-sifat-Nya dan asma-asma-Nya tidak diperbolehkan sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Bertafakurlah pada makhluk-makhluk Allah Ta’ala dan jangan bertafakur pada Dzat-Nya.” Rasulullah melarang hal demikian karena akal manusia tidak sanggup memahami Dzat atau wujud-Nya. Dzat atau wujud Allah mustahil dilihat dengan mata lahiriah manusia, sebagaimana kita tidak mungkin sanggup melihat matahari secara langsung. Kelelawar tidak mungkin sanggup melihat cahaya matahari yang amat sangat terang-benderang. Karena itu, ia menahan dini tidak keluar dari sarangnya pada siang hari. Ketika malam hari yang gelap tiba, kelelawar berani keluar dan baru dapat melihat. Adapun keadaan orang yang shiddiq kurang-lebih sama dengan keadaan seseorang yang mampu melihat matahari sepintas saja. Tetapi jika ia sedikit agak lama melihat matahari secara langsung, ia menjadi buta. Demikian pula, melihat wujud Allah dapat menyebabkan kebutaan, menimbulkan kegoncangan dan kebingungan jiwa yang luar biasa. Oleh karena itu, bertafakur dan memikirkan wujud Allah dilarang bagi manusia. Perbuatan yang tak diperbolehkan. Allah Yang Mahatinggi berada di atas dan di luar ruang, waktu dan bebas serta tidak dibatasi oleh arah. Ia tidak berada di dalam dunia, tetapi juga tidak berada di luarnya. Ia tidak dekat, tetapi juga tidak jauh. Ia tidak mempunyai tangan, kaki atau anggota tubuh lainnya. Ia tidak bertubuh atau berbadan. Ia tidak mempunyai bobot, panjang dan ke-dalaman serta tidak menempati ruang, Dia pun tak terkungkung oleh waktu. Oleh karena itu, Dia tidak memerlukan waktu untuk menciptakan segala sesuatu, Dia hanya mengatakan `Kun’ (Ada!) maka pada saat itu juga sesuatu itu ada, termasuk jagat raya alam semesta in Dengan demikian, kita manusia tidak akan sanggup memahami dan memikirkan Wujud atau Dzat yang seperti itu. Walaupun demikian, manusia harus percaya akan keberadaan Wujud yang demikian itu, yang disebut Allah Ta’ala. Seandainya lalat memiliki akal seperti halnya manusia, maka bolehjadi ia berpikir bahwa Allah memiliki sayap, tangan dan kaki dan mempunyai ke-mampuan dan kekuatan untuk terbang. Demikian pula, manusia berpikir bahwa Dia adalah seperti manusia pula, bertangan, berkaki, bermata, bertelinga, dan sebagainya. Karena alasan itu, Rasulullah Saw bersabda, “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat akalnya.”

Jenis tafakur yang kedua adalah memikirkan dan merenungkan penciptaan makhluk dan keberadaannya, memikirkan dan merenungkan hasil ciptaan-Nya yang begitu menakjubkan, sehingga dari sini manusia dapat membayangkan betapa Sang Pencipta memiliki kekuatan dan kekuasaan serta kecermatan yang tiada tara-nya. Kita dapat memperkirakan betapa dahsyat kekuatan matahari dari cahayanya yang sangat terang yang sampai di permukaan bumi. Kalau di permukaan bumi saja sudah demikian panas dan terang, betapa tak ter-bayangkan panas dan terangnya matahari di tempatnya. Demikian pula, kita dapat memahami kebesaran dan keagungan Allah Ta’ala dari betapa hebat dan besarnya penciptaan langit dan bumi yang sangat menakjubkan dan apa-apa yang terdapat di antara kedua benda langit mi.

Benda-benda langit itu hanya secercah cahaya dari wujud-Nya. Tidak ada kegelapan yang lebih gulita dan kelam daripada ketiadaan cahaya Allah dan tidak ada cahaya yang lebih mencerahkan daripada cahaya-Nya. Keperiadaan dan wujud segala sesuatu tergantung pada dan disebabkan oleh keberadaan cahaya, karena keberadaan segala sesuatu adalah akibat dari keberadaan dan wujud-Nya. Seperti halnya cahaya matahari menyediakan cahaya bagi semua yang ada di bumi dan di dalam sistem tatasurya kita, demikian pula Allah memiliki cahaya pada dan bagi Dirinya Sendiri. Jika suatu bagian dari matahari tertutup oleh bayangan bulan (gerhana) kita pun dapat menyaksikan wujud matahari dalam secawan air yang penuh. Kita dapat melihat bayangan atau citra dari matahari pada air dalam cawan, dan melihat wujud matahari hanya dimungkinkan melalui cara seperti itu. Dengan demikian, untuk me-ngurangi cahaya matahari yang luar biasa kuatnya, kita dapat melakukannya dengan air dalam cawan. Begitu pula kita dapat melihat sifat-sifat Sang Khalik melalui makhluk-makhluk-Nya yang mencengangkan dan menakjubkan kita. Inilah makna penting ucapan Rasulullah Saw, “Bertafakurlah tentang makhluk-makhluk Allah dan jangan bertafakur tentang Dzat-Nya.”

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: