Rasulullah Saw bersabda bahwa bertafakur selama satu jam adalah lebih baik daripada ibadah selama setahun. Tafakur adalah berpikir atau memikirkan dan merenungkan tentang makhluk‑makhluk ciptaan Allah, bukan Dzat Allah. Al-Quran al‑Karim banyak  memberikan dorongan kepada kaum Muslim bukan hanya bertafakur, tetapi juga melakukan tadabbur (memahami dengan mendalam sifat-sifat Allah), i’tibar (mengambil pelajaran, pengajaran atau `ibrah), nazhr (memperhatikan atau menelaah secara mendalam). Bukan hal yang rahasia bagi kaum Muslim bahwa berpikir secara baik dan mendalam adalah kunci pembuka kepada cahaya (nur) ilahi, awal serta dasar bagi penglihatan yang mendalam atau penglihatan hati atau penglihatan ruhaniah, pintu kepada berbagai ilmu dan jalan kepada ma`rifatullah dan kepada pengenalan serta pemahaman tentang Allah. Kebanyakan manusia, lebih‑lebih kaum Muslim, telah mengetahui serta memahami nilai keutamaan dan martabatnya, namun belum mengetahui serta memahami sifat dasar, hakikat, buah, sumber, pokok-pokok, dan jalan-jalannya serta cara-cara menuju kepada-Nya. Bagaimana bertafakur kepada Allah, apa yang ditafakuri, mengapa bertafakur, dengan bantuan apa dan bantuan siapa dalam bertafakur, adalah di antara hal-hal yang tidak diketahui oleh kebanyakan mereka.

Sabda Nabi Muhammad Saw, “Orang yang paling banyak mengingati mati dan mempersiapkan bekal untuk menghadapinya, adalah orang yang paling bijak karena pergi dengan kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat.”
Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengumpulkan para ulama setiap malam dan mendengarkan uraian mereka tentang mati, hari kebangkitan, dan akhirat.
Adalah Nabi ‘Isa As, jika diceritakan kepada beliau tentang mati, maka darah pun menetes dari pori-pori kulit beliau. Dalam kisah serupa lainnya, jika cerita tentang mati dibicarakan di depan Nabi Daud As, maka beliau pun menangis hebat,
sehingga rambut-rambutnya tercabut dari badannya. Selanjutnya,
ketika rahmat Allah disebut-sebut di hadapannya, maka beliau pun
kembali ke keadaan semula.

 

Kategori:Uncategorized

HAL-HAL YANG DIANJURKAN SAAT AJAL MENJELANG

Ketahuilah, wahai para pembaca, bahwa hal atau keadaan yang diperlukan bagi orang yang menjelang kematian adalah sebagai berikut. la hendaknya tenang, damai, tidak banyak bergerak, dan siap dengan meng-ucapkan (dengan lidahnya) Kalimat Syahadah dan berprasangka baik kepada Allah dalam hatinya.

SIKAP TENANG. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda, “Amatilah sesosok mayat dengan tiga keadaannya. Apabila keluar peluh pada dahinya, matanya basah oleh airmata, dan bibirnya menjadi kering, maka insya Allah rahmat Allah tercurah padanya. Dan apabila teng-gorokannya mendengkur keras, mukanya menjadi merah dan bibirnya mengeluarkan busa berwarna gelap, maka adzab Allah turun atasnya.” Adapun kelancaran dalam mengucapkan Kalimat Syahadah saat sakaratul-maut: Asyhadu alla ilaha Illallah (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah) maka hal ini adalah tanda dari kebajikan dan kesalihan.

Baca selanjutnya…

RASA SAKIT SAAT SAKARATUL MAUT

Luqman al-Hakim berkata kepada putranya, “Wahai anakku, engkau tidak tahu kapan maut mendatangimu. Persiapkan dirimu menyambutnya sebelum ia tiba-tiba menyerangmu.” Hendaknya kita mengetahui bahwa hanya orang yang telah mengalami rasa pedih sakaratul mautlah yang mengetahui hakikat rasa sakit tersebut. Tetapi orang yang belum pernah merasainya hanya dapat mengetahuinya atas dasar dugaan atau menyaksikan sakit dan pedihnya orang lain saat sakaratul-maut.

Baca selanjutnya…

KEUTAMAAN MENGINGAT MATI

Ketahuilah wahai pembaca bahwa manusia begitu sungguh-sungguh dan sangat sibuk dengan dunia dan segala hiruk-pikuk serta urusannya. Manusia banyak sekali yang terperdaya oleh tipuan dan rayuan dunia yang begitu mempesona, sehingga mereka lalai dan alpa dari mengingat mati. Karena itu, manusia pun menjadi lupa kepada mati. Tatkala mereka diingatkan tentang mati, mereka tidak suka dan mencoba lari dari membicarakan-nya. Meskipun demikian, mati, manusia yang mencoba melarikan din i darinya, pasti akan menemuinya, cepat atau lambat. Mereka itulah orang-orang yang dibicarakan Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya, “Katakanlah, `Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kernudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’.” (Qs al-Jumu`ah [62] : 8).

Baca selanjutnya…

CARA BERTAFAKUR TENTANG MAKHLUK ALLAH

Dalam Al-Quran disebutkan bahwa jika air laut yang terdapat di permukaan bumi dijadikan tinta, maka laut akan mengering sebelum semua sifat dan ilmu Allah Yang Mahaagung ditulis. Dunia makhluk ciptaan Allah yang ada di alam raya ini dapat dibagi menjadi dua. Pertama, asal dan pangkal dari satu bagian yang tidak diketahui hakikatnya oleh manusia. Karena itu, bertafakur atau memikirkan dan merenungkan hal-hal tersebut adalah tidak mungkin, mustahil. Banyak sekali benda atau hal yang terdapat di langit maupun di bumi yang hakikatnya tidak dikenal oleh manusia. Allah Ta’ala berfirman, “Mahasuci Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, baik yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari dirimereka sendiri maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Qs Ya Sin [36] : 36). Dia juga berfirman dalam ayat lainnya, “… Dan Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs an-Nahl [161: 8).

Kedua, adalah benda-benda atau hal-hal yang di-ketahui oleh manusia walaupun rincian dan uraian de-tailnya tidak diketahui manusia. Dalam hal ini, ber-tafakur tentang hal-hal tersebut dimungkinkan dan, karena itu, tidak diharamkan. Selanjutnya benda-benda atau hal-hal tersebut dibagi lagi menjadi dua. Pertama, hal-hal yang dapat kita lihat dan saksikan dengan mata lahiriah (fisik) kita. Kedua, hal-hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata kepala kita, seperti malaikat, jin, setan, Arsy, Kursi (Singgasana Ilahi), dan sebagainya. Mereka dapat dan boleh menjadi obyek dan lapangan tafakur kita. Kita hanya akan menjelaskan apa yang dekat dan ter-jangkau oleh akal kita. Dengan perkataan lain, apa yang kita lihat dengan mata lahiriah kita antara lain: langit yang tujuh dan bumi serta apa-apa yang terdapat di antara keduanya. Kita melihat matahari, bulan dan bintang di langit dan kita menyaksikan pergerakan mereka, terbit dan tenggelamnya. Kita juga bisa melihat planet bumi. Di atas bumi terdapat gunung, sungai, laut, binatang yang bergerak, tumbuhan, binatang ternak, burung dan binatang lain. Dengan perkataan lain, apa yang terdapat di antara bumi dan langit bisa dilihat dengan mata telanjang. Kita juga melihat awan, hujan, bukit, badai, kilat, petir, tiupan angin, pelangi, dan sebagainya. Benda-benda di setiap alamnya pun juga berbeda dan kita bisa menjumpai banyak sekali cabang dan anak-cabang dari masing-masing cabang. Di samping itu, kita bisa memperhatikan makanan kita yang layak pula menjadi bahan bagi kita untuk berkaca diri(berefleksi). Kesemua benda tersebut menjadi saksi dan bukti dari keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala. Al-Quran al-Karim men-dorong dan menyuruh manusia merenungkan perkara ini, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya ma’am dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Qs Ali ‘Imran [3]: 190).

Marilah kita bahas berikut ini sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah.

1. BENIH-KEHIDUPAN. Manusia diciptakan dari setetes air yang dipandang menjijikkan. Padahal `benda’ ini sesungguhnya adalah benih-benih kehidupan (sperma) yang ukurannya amat sangat kecil. Ini sendiri merupakan contoh yang sangat menakjubkan. Di sini tampak ke-agungan dan kebesaran Allah Yang Maha Agung dan Mahabesar. Sekalipun kita tafakuri hal itu sepanjang hidup, tidak akan kita ketahui bahkan suatu bagian yang terkecil pun darinya, kendatipun kita tidak ambil pusing tentang hal itu. Bagaimana kita berharap dan mengira dapat mengetahui orang lain, sedangkan terhadap dini kita sendiri pun kita tidak tahu samasekali? Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Quran, “Binasalah manusia, alangkah amat sangat kekafirannya, dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes air mani, Allah menciptakan lalu menetapkannya, Kemudian Dia memudahkanjalannya ….” (Qs Abasa [60]: 17-20). Dalam ayat lainnya, Dia berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah ….” (Qs al-Mu’minun [23]: 12).

Hendaklah kita perhatikan setetes air mani, bagaimana Dia mengubah wujud zat berwarna putih dan berukuran sangat kecil yang bercampur dengan darah yang terburuk menjadi segumpal darah berwarna merah, bagaimana Dia mengubah gumpalan darah ini menjadi daging dan bagaimana Dia membedakannya atau memisahkannya menjadi otot, tulang-belulang, hati, jantung, limfa, kepala, telinga, hidung, mata, saluran air kencing, perut, muka, dan organ-organ tubuh lainnya. Masing-masing anggota tubuh, baik luar maupun dalam, memiliki bentuk khusus dan masing-masing juga memiliki fungsinya: mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk membau, tangan untuk meraba, otak untuk berpikir, kaki untuk berjalan, jantung untuk mengedarkan darah dan perut untuk mencerna makanan yang masuk ke dalamnya. Pikirkan dan tafakurilah kepala kita. Batok kepala kita diciptakan dengan lima puluh tulang yang berbeda, masing-masing mempunyai bentuk yang berbeda, kesemuanya disambungkan dengan persendian yang sangat kompak dan kokoh. Selanjutnya, pikirkan setiap anggota tubuh kita. Kita tidak akan menemukan hal yang sama pada masing-masing anggota tubuh kita itu. Kesemuanya ini terkandung di dalam satu sel dari setetes zat berwarna putih yang dianggap menjijikkan rupanya.

2. DUNIA DAN ISINYA. Renungkanlah tentang planet bumi kita ini, sebab ia merupakan tempat tinggal kita dan pikirkan sungai-sungai, samudera-samudera, laut-laut, gunung-gunung, barang-barang tambang, dan benda-benda lain dan kemudian pikirkan alam langit. Allah Azza wa Jalla telah menetapkan bumi ini sedemikian rupa sehingga ia stabil dan tidak berguncang-guncang karena Dia memberikan pasak berupa gunung-gunung padanya. Dia menjadikan sejumlah tempat begitu tinggi sehingga tidak ada yang bisa menjangkaunya. Kemudian tafakurilah tentang bumi ini Pada suatu saat, bagian-bagian tertentu planet bumi ini mati, gersang, kering, tanpa tetumbuhan. Namun, ketika hujan turun atasnya, maka tiba-tiba bumi menjadi hidup dan kemudian menumbuhkan tetumbuhan padanya, rerumputan dan rerambatan yang dengannya berbagai jenis binatang dapat mempertahankan dan melangsung-kan hidupnya. Dia menjadikan dan menciptakan dari bebatuan dan tanah kering makhluk-makhluk dan Dia pulalah yang menumbuhkan tetumbuhan dan pepohonan yang pada gilirannya bisa menghasilkan berbagai buah-buahan.

Sebagian tetumbuhan memberikan bahan pangan, sebagian memberikan kekuatan atau tenaga (energi), sebagian menyelamatkan kehidupan, sebagian mcm-binasakan kehidupan, sebagian dingin, sebagian bisa menimbulkan rangsangan, sebagian dapat menghilang-kan penyakit kuning, sebagian dapat mengakibatkan penyakit kuning, sebagian dapat menyebabkan kantuk, sebagian dapat membersihkan darah, dan sebagainya. Sebagian lagi dapat memperlancar peredaran darah, sebagian dapat menjadi semacam obat tidur, sebagian dapat menghasilkan kekuatan, dan sebagian dapat menyebabkan kelemahan. Dengan demikian, tidak ada satu jenis tetumbuhan pun yang tumbuh di muka bumi ini yang tidak mempunyai manfaat. Tentu saja, manusia tidak mampu memahami setiap manfaat daripadanya. Ini semua menjadi bahan untuk tafakur dan berkaca dini bagi orang yang berakal.

3. GUNUNG DAN BARANG TAMBANG. Di perut gunung yang menjulang dan di bawah permukaan bumi juga banyak terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala . Di situ terdapat barang-barang tambang antara lain berupa logam seperti emas, perak, besi, tembaga, timah, nikel, dan sebagainya. Biasanya logam-logam itu tercampur dengan bahan-bahan tambang lainnya, seperti emas, perak, besi, dan timbal. Sebagian bahan tambang tidak tercampur dengan yang lain seperti jamrud dan rubi (batu delima). Kemudian lihatlah bahan-bahan tambang yang terdapat di bawah tanah. Di antara bahan-bahan tambang itu kita temukan garam, belerang, fosfor, dan sebagainya. Garam menyebabkan masakan atau ma- kanan kita sedap, tidak hambar dan memiliki citarasa. Karena itu, Allah Ta’ala menciptakan beberapa jenis tanah bergaram yang tercampur dengan air dan apabila terbakar oleh panas terik matahari akan menghasilkan garam murni.

Allah Yang Maha Pengasih telah menciptakan segala sesuatu dengan tujuan tertentu atau tujuan-tujuan yang lain. Dia tidak menciptakan semua yang terdapat di atas permukaan bumi dengan main-main dan senda-gurau. Allah Swt berfirman, “Dan Kami tidak menciptakan langit dan burni dan apa yang terdapat di antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Qs ad-Dukhan [44]: 38-39).

4. TANDA-TANDA KEKUASAAN ALLAH DALAM PENCIPTAAN MAKHLUK. Sebagian binatang diciptakan oleh Allah dapat terbang di angkasa, sebagian lainnya berjalan di atas tanah dengan dua kakinya, sebagian lagi merayap dengan perutnya, sebagian berjalan dengan empat kaki, sebagian dengan sepuluh kaki, scbagian dengan seratus kaki, dan sebagainya. Kita dapat menjumpai binatang yang berjalan dengan kaki lebih dari empat pada bangsa serangga. Bentuk, sifat, dan cara bergerak mereka juga berbeda. Pada mereka kita akan menemukan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt yang menakjubkan yang memper-lihatkan keagungan dan kebesaran Sang Pencipta. Jika kita menggambarkan hal-hal yang menakjubkan dalam penciptaan lalat, semut, lebah, laba-laba, dan sebagainya kita akan menemukan berbagai keajaiban pada binatang-binatang itu. Renungkan dan tafakurilah bagaimana mereka membangun habitat (tempat hidup)-nya ma-sing-masing, bagaimana mereka mengumpulkan ma-kanan dan bagaimana mereka mencintai pasangannya, bagaimana mereka menyimpan makanan. Kita tidak mampu melakukan pekerjaan mereka dengan segala kemampuan dan ilmu kita. Apakah kita berpikir bahwa laba-laba melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut karena inisiatifnya sendiri dan mempelajarinya sendiri tanpa ada yang mengajarinya, ataukah diajari oleh manusia? Apakah mereka ada dengan sendirinya atau diadakan oleh manusia, atau ada yang menciptakannya dan mengajarinya? Apakah semua ini tidak membukti-kan bahwa Sang Pencipta adalah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana?

Manusia adalah binatang yang paling menakjubkan di antara binatang-binatang lainnya. Manusia tidak akan mengungkapkan rasa takjubnya sebelum memperhati-kan dan bertafakur tentang dirinya sendiri. Betapa perkasa dan agung Dia yang telah menciptakan manusia, yang mempunyai bentuk paling baik dan paling me-nakjubkan di antara makhluk-makhluk-Nya.

5. TANDA KELIMA CIPTAAN ALLAH YANG MENAKJUBKAN. Daratan yang merupakan bagian dari bumi ini dikelilingi oleh lautan yang sangat luas. Daratan ibarat sebuah pulau di tengah-tengah kungkungan air yang sangat luas. Rasulullah Saw bersabda, “Sebagaimana istal (kandang) kuda di tengah padang rumput yang luas, demikian pula daratan di tengah-tengah lautan.” Dengan demikian, Rasulullah Saw membandingkan istal atau kandang kuda dengan bumi. Sekarang coba tafakurilah tentang lautan yang sangat luas. Di lautan yang sangat luas itu kita temukan kumpulan binatang-binatang air yang mirip dengan pulau-pulau kecil. Jika kita membakar sesuatu dengan api di atasnya, maka kau saksikan bahwa pulau-pulau itu bergerak. Kemudian kita mengetahui bahwa ia bukanlah pulau melainkan sekumpulan binatang air.

6. TANDA ICEKUASAAN ALLAH DI UDARA DAN BENDA-BENDA ANGKASA. Organ tubuh kita yang dapat meraba atau menyentuh sesuatu ternyata tidak dapat menyentuh udara saat mengalir. Mata tidak dapat melihat udara yang mengalir itu. Horizon udara seperti sebuah lautan, burung yang terbang di udara seperti ikan berenang di dalam air atau lautan. Segala sesuatu di udara bergetar (bergerak) sebagaimana ombak laut. Jika sesuatu yang terisi dengan udara ditumpahkan pada air, maka ia tidak akan tertumpah. Sebaliknya, jika sesuatu yang berisi air dilemparkan ke atas udara, maka ia akan kembali jatuh ke bumi. Sekarang lihat dan perhatikan gaya tank bumi, bobot dan kekuatan udara. Ambillah sepotong besi. Ia tidak akan mengapung, baik di atas air maupun di udara, tetapi ia akan tenggelam di dalam air. Demikian pula udara tidak tenggelam di dalam air karena bobotnya ringan. Allah Yang Maha Perkasa menjaga kapal tetap berada di atas air karena mereka penuh udara. Kemudian pikirkan hal-hal yang terdapat di angkasa: awan, hujan, kilat, salju, es, dan sebagainya. Allah Ta’ala berfirman, ” … Dia sebarkan di bumi itu segalajenis hewan dan pengisa ran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. . ..” (Qs al-Bagarah [2] : 164). Sebagaimana kita ketahui, awan-awan mengandung dan memuat titik-titik air yang banyak sekali dan kemudian digeraldcan lalu disebarkan ke negeri-negeri yang jauh untuk menyampaikan rahmat karunia Allah berupa air dan hujan ke negeri-negeri tersebut.

7. LANGIT DENGAN BINTANG, MATAHARI DAN BULAN. Lihatlah matahari yang berputar pada sumbunya selama satu tahun. Setiap hari ia terbit di timur dan tenggelam di barat. Seandainya ia tidak terbit dan tenggelam, niscaya tidak akan ada malam dan siang dan waktu pun tidak akan diketahui. Itulah yang akan terjadi setiap hari, setiap siang atau setiap malam. Disebabkan oleh perputaran itu, maka terjadilah musim panas, musim dingin, musim semi dan musim gugur. Ketika matahari condong ke satu sisi dari sumbunya, maka datanglah musim dingin. Ketika ia masih berada di garis meridiannya, maka datanglah musim panas. Tidak ada sebuah bintang pun yang diciptakan dengan tanpa tujuan. Para astronom sepakat bahwa ukuran matahari 160 kali lebih besar dari bumi. Kemudian pikirkan tentang bintang-bintang di langit. Bintang terkecil lebih besar 80 kali dari bumi. Bintang terbesar lebih dari 120 kali lebih besar ketimbang bumi. Semakin jauh jarak sebuah bintang, semakin kecil ia tampak oleh kita. Rasulullah Saw bersabda, “Jarak -satu langit dengan langit lainnya adalah perjalanan selama 500 tahun.” [Tentu kita tidak boleh memandang ucapan beliau ini secara harfiah, tetapi maknawiah, di mana bilangan itu menunjukkan betapa jauh jarak antara langit yang satu dengan langit yang lain. Demikian pula tentang makna langit itu sendiri—penerj.].

Sekarang kita bisa memikirkan dan membayang-kan betapa luas horizon langit yang berisi matahari, bulan dan bintang-bintang. Pada suatu hari Rasulullah Saw bertanya kepada malaikat Jibril As, “Apakah matahari tenggelam?” Malaikat Jibril As menjawab, “Ya dan tidak.” Beliau bertanya, “Mengapa engkau mengatakan, ya dan tidak?” Jibril As menjawab, “Dalam waktu yang digunakan untukjawaban, `ya dan tidak’ matahari sudah menempuh jarak perjalanan sejauh 500 tahun.” Sekarang kita dapat membayangkan betapa besar matahari dan betapa cepat ia bergerak.

Selanjutnya lihat dan renungkan kepenciptaan Sang Khalik, bagaimana Dia memasukkan matahari ke dalam bagian dalam mata (retina mata) kita kendatipun ukuran sesungguhnya amat sangat besar dibandingkan dengan bola mata kita. Kemudian kita dapat melihat keseluruhan sosok ujud matahari. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala menyangga langit tetap pada tempatnya tanpa tiang. Kemudian lihatlah pada kehidupan di muka bumi, bagaimana Dia menciptakannya dan mempertahankan kelangsungan hidupnya. Sebagaimana seekor semut yang hidup di sudut sebuah istana tidak memperoleh informasi tentang keluasan dan kemegahan istana dan kemuliaan serta keagungan pemilik istana, demikian pula kita hidup seperti seekor semut di sudut bumi yang sangat luas dan tidak memperoleh informasi tentang kemahakuasaan dan kemahaagungan Sang Khalik dan segala sifat dan perbuatan-Nya. Kini kita tidak dapat memahami ciptaan-ciptaan Allah yang menakjubkan dan kekuasaan-Nya serta kedaulatan-Nya, karena kita hanya diberi amat sangat sedikit akal dan hikmah yang dengannya kita tidak mampu memahami segala sesuatu sebagaimana kita hanya diberi amat sedikit penglihatan dan pendengaran. Allah Ta’ala berfirman, “… dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Qs al-Isra’ [17]: 85). Ini semua adalah bahan bagi perenungan dan tafakur kita. Kita harus memikirkan tentang ciptaan-ciptaan Allah yang menakjubkan dan bukan memikirkan wujud dan dzat-Nya. Pemikiran dan perenungan di atas akan membawa kita lebih dekat kepada Allah. Makin banyak kita merenungkan ciptaan-ciptaan-Nya, makin banyak kita mengenal keagungan, kekuasaan dan kekuatan-Nya.

BERTAFAKUR TENTANG ALLAH

Bagian atau aspek kedua tafakur yaitu tafakur tentang keagungan Allah, kebesaran, kemahabesaran, kekuatan dan keperkasaan-Nya. Bertafakur dan merenungkan Dzat Allah, wujud-keberadaan-Nya, sifat-sifat-Nya dan asma-asma-Nya tidak diperbolehkan sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Bertafakurlah pada makhluk-makhluk Allah Ta’ala dan jangan bertafakur pada Dzat-Nya.” Rasulullah melarang hal demikian karena akal manusia tidak sanggup memahami Dzat atau wujud-Nya. Dzat atau wujud Allah mustahil dilihat dengan mata lahiriah manusia, sebagaimana kita tidak mungkin sanggup melihat matahari secara langsung. Kelelawar tidak mungkin sanggup melihat cahaya matahari yang amat sangat terang-benderang. Karena itu, ia menahan dini tidak keluar dari sarangnya pada siang hari. Ketika malam hari yang gelap tiba, kelelawar berani keluar dan baru dapat melihat. Baca selanjutnya…

CARA BERTAFAKUR

Kami akan membatasi diripada cara bertafakur dalam hubungannya dengan masalah-masalah keagamaan yang berkaitan dengan hubungan hamba dengan Tuhannya, Allah Swt. Ada dua macam cara bertafakur dalam hal ini. Pertama, bertafakur dalam hubungannya dengan kebajikan dan kejahatan seorang hamba. Dan, kedua, bertafakur berkenaan dengan Allah Ta’ala, wujud-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya dan nama-nama-Nya yang indah dan berkenaan dengan makhluk-makhluk-Nya, kekuasaan dan kedaulatan-Nya, langit dan bumi serta apa yang terdapat di antara keduanya. Baca selanjutnya…

Kategori:Cara Bertafakur

Hakikat Tafakur dan Buahnya

Tafakur berarti hadir dan munculnya dua hikmah ,(ma`rifah) di dalam hati. Selain itu juga hadir dan timbulnya hikmah (ma`rifah) ketiga sebagai hasil percampuran atau perpaduan dari kedua hikmah tersebut. Ambillah salah satu contoh. Orang yang ingin mengetahui bahwa akhirat lebih baik dari dunia ini—walaupun sementara ini ia cenderung pada dunia yang sekarang ini—maka ia harus menempuh dua jalan. Jalan pertama yaitu ia harus mendengar dari orang lain dan kemudian ia percaya bahwa akhirat lebih baik dari dunia yang sekarang ini. Ia membenarkan lalu mengikuti perkataan orang lain itu semata-mata tanpa melihat dari mewawas secara mendalam. Inilah yang disebut taqlid atau percaya buta tanpa alasan yang kuat.

Cara kedua yaitu mengetahui bahwa apa yang kekal adalah lebih baik dan lebih utama. Berdasarkan pengetahuan tentang kedua premis (pernyataan mendasar) ini, muncullah pengetahuan lain bahwa akhirat lebih baik dari dunia yang sekarang ini, karena yang pertama lebih kekal dari yang kedua. Jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang dua hal yang terdahulu, maka pengetahuan tentang hal ketiga mustahil kita miliki. Inilah yang disebut tafakur atau merenungkan atau berpikir secara mendalam. Padanannya antara lain adalah meng-ambil i’tibar, tadzakkur, nazhar (memperhatikan dengan cermat), dan tadabbur. Pintu pengetahuan ilahiah atau ma`rlfah tidak tertutup sekalipun kematian menghampiri manusia. Ia akan terns berlanjut bahkan setelah ke-matian.

BERPIKIR ADALAH DASAR BAGI AMAL. Tafakur atau berpikir akan menurunkan dan membuahkan pengetahuan, menghasilkan ilmu. Pada gilirannya, pengetahuan akan menghasilkan keadaan (hal) hati. Atau, pengetahuan akan menggerakkan hati, lalu hati menggerakkan anggota tubuh untuk melakukan suatu perbuatan. Oleh karena itu, berpikir dengan mendalam, merenung, atau bertafakur merupakan kunci dari amal yang salih, atau perbuatan yang baik dan bijak. Ini lebih baik dari dzikir dan dzikir adalah lebih baik dari mengajar, karena tafakur juga berarti dzikir. Adapun dzikir lebih baik daripada amal yang dilakukan oleh anggota tubuh. Maka dari itu, tafakur lebih baik dari semua amal dan pekerjaan. Untuk itulah seorang waliyullah mengatakan bahwa tafakur selama satu jam lebih utama ketimbang beribadah selama setahun.

Tafakur akan membimbing dan menuntun manusia kepada simpulan pengertian yang sangat ber-makna dan berguna bahwa akhirat lebih baik dari dunia. Ketika pikiran ini tertanam mendalam di dalam hati, niscaya hal itu akan memimpin seseorang kepada sikap dan perilaku zuhud dari dunia dan berhasrat besar kepada kedamaian dan kebahagiaan yang kekal di akhirat. Inilah perubahan keadaan hati. Sebelum manusia memperoleh pengetahuan atau ma`rifah seperti ini, hati umumnya lalai dan berpaling kepada kesenangan, kcnyamanan dan kemcwahan dunia serta tidak menyukai bahkan mem-benci akhirat. Setelah pengetahuan bahwa akhirat lebih baik dari dunia yang hadir dalam hati, maka hati juga mengalami perubahan lalu kehendak dan keinginannya pun berubah sepenuhnya. Dan pada akhirnya seluruh amal-perbuatannya dibimbing dan dituntun oleh motif untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat.

Bertafakur, merenungkan dan memikirkan secara mendalam adalah sebutan lain bagi menyalanya ilmu yang muncul akibat dari dua macam pengetahuan ter-sebut, sebagaimana api muncul akibat dari besi yang dipukulkan pada batu. Ketika api terpercik dari pukulan besi pada batu, maka mata kita melihat percikan api ter-sebut. Sebelum besi dipukulkan pada batu, mata kita tidak melihat sesuatu pun. Percikan api yang tampak itu membangkitkan seluruh anggota tubuh siap bertindak untuk melakukan sesuatu. Demikian pula halnya dengan cahaya yang memancar di dalam hati manusia, yang dengannya manusia dapat melihat hakikat atau sifat hakiki dari segala sesuatu. Cahaya mengubah hati yang tadinya tiada dapat melihat sesuatu pun di dalam kegelapan. Dengan demikian, hasil dari tafakur adalah ilmu, pengetahuan dan perubahan hal (keadaan) hati. Tidak ada batas dan ujung dari keadaan yang mengubah hati. Orang yang berusaha untuk menguasai semua cabang pengetahuan keagamaan, tentu dia tidak akan mampu. Maka dari itu, kita seyogianya berusaha me-nguasai sebagian pengetahuan tentang semua tahap atau maqam yang menuntun kita kepada pencerahan ruhaniah.